Sumonggo....:)

Welcome to my blog......:)

Sabtu, 18 Februari 2012


MAKALAH PEMASANGAN INFUS
BAB I
PENDAHULUAN
I.            Latar Belakang
Kebutuhan Cairan Tubuh dan Dehidrasi
Tubuh manusia terdiri dari 55 hingga 75% air / cairan. Namun jumlah kebutuhan air di dalam tubuh berbeda sesuai dengan usia dan jenis kelamin seseorang. Oleh karena itu, kebutuhan air yang dibutuhkan Si Kecil berbeda dengan Anda.
Cairan tubuh yang ada dalam sel tubuh sama pentingnya seperti Oksigen yang harus selalu tersedia dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Air di dalam tubuh berfungsi untuk mengatur suhu agar tetap bertahan pada 37 derajat celsius.  Panas yang dihasilkan oleh proses metabolisme dikeluarkan melalui keringat dan penguapan air oleh kulit. Jika jumlah cairan dalam tubuh berkurang, maka otomatis proses metabolisme akan terganggu. Akibatnya, volume keringat dan urin yang dihasilkan tubuh berkurang.
Cara paling umum untuk mengatasi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) adalah dengan memberikan oralit (sesuai aturan pakai), atau membuat lapuran campuran garam dan gula. Bertujuan untuk mengembalikan cairan tubuh yanghilang, serta mineral yang terlarut di dalamnya.
Dehidrasi dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain:
1.    Diare
2.    Muntah
3.    Banyak berkeringat, akibat  aktivitas Si Kecil yangterlalu tinggi
4.    Terserang demam tinggi
5.    Kondisi / keadaan yang membuat Si Kecil terhalang atau tidak memungkinkan memasukkan cairan ke dalam mulutnya. Contoh: saat Si Kecil menderita kolik dan menangis sepanjang malam.
6.    Akibat obat diuretika (yang dapat merangsang keluarnya air seni)
REVIEW ANATOMI FISIOLOGI
A.   SALURAN PERNAFASAN ATAS
Fungsi : menyaring, menghangatkan dan melembabkan udara yang dihirup.
Terdiri dari :
a.    Hidung
b.    Faring
c.    Laring
d.    Epiglottis
B.   SALURAN PERNAFASAN BAWAH
Fungsi :
a.    menghangatkan udara
b.    membersihkan mukuosa cilliary
c.    memproduksi surfactan
Terdiri dari :
a.    trachea
b.    bronchus
c.    paru
C.   FISIOLOGI PERNAFASAN
FISIOLOGI PERNAFASAN
3 proses yang berpengaruh pada proses respirasi, yaitu ;
  1. Ventilasi Pulmoner
  2. Difusi Gas antara alveoli dan Kapiler Paru
  3. Transport O2 dan CO2 melalui darah ke sel – sel jaringan
Ventilasi Pulmoner
-       Merupakan proses pertukaran udara antara alveoli dan atmosfir / udara luar.
-       Ventilasi pulmoner akan meningkat slama aktifitas dan dalam keadaan sakit. Hal ini diikuti pengembangan dada dan usaha bernafas maksimal. 
-       Selama inspirasi rusuk akan naik oleh karena aksi otot leher anterior dan kontraksi otot intercostal external.
-       Selama ekspirasi rusuk akan turun oleh karena aksi otot perut anterior.
-       Aktifitas otot tambahan dan usaha nafas bertambah pada klien dengan penyakit obstruksi saluran pernafasan.
Ventilasi Pulmoner tergantung dari :
-       Kecukupan O2 di Udara Luar
Kecukupan konsentrasi O2 di udara luar/ atmosfir merupakan dasar untuk kecukupan respirasi. Konsentrasi o2 pada tempat tinggi lebih randah dari pada di laut.
Selama inspirasi, udara melalui hidung, pharing, laring, trachea, bronchi, dan broncheolus ke alveoli, dan sebaliknya pada periode ekspirasi.Hidung berfungsi menghangatkan, melembabkan dan menyaring udara. Partikel partikel besar pada udara akan difiltrasi oleh rambut pada hidung, dan partikel kecil difiltrasi oleh nasal turbulence.
a.    Kebersihan Jalan Nafas
Jalan udara dibersihkan oleh membran mukosa, yang terdiri dari cilia. Cilia pada saluran nafas bawah menggerakkan benda asing ke atas dan cilia pada hidung untuk mengeluarkan. Batuk dan bersin berpengaruh penting pada mekanisme kebersihan jalan nafas. Reflek batuk ditimbulkan oleh adanya iritan yang yang mengirimkan impuls melalui saraf vagus ke medulla. Sedangkan bersin terjadi ketika ada impuls saraf kelima ke medulla.
b.    Kembang kempis Paru
Merupakan pengembangan semua bagian paru dan dada. Pengembangan paru terjadi karena bertambahnya volume paru oleh adanyan peningkatan tekanan paru. Ketidakadekuatan mengembang menyebabkan kerusakan jaringan paru, seperti edema, tumor, paralisis atau kiposis.
c.    Regulasi Respirasi
Sistem saraf mengatur rata – rata dari ventilasi paru agar sesuai dengan kebutuhan tubuh ( PO2 dan PCO2 ) tetap konstan.
Pusat pengendali pernafasan terletak di medulla oblongata dan pons.
-  Volume Pulmoner
a.    Volume tidal ( TV ) : jumlah udara yang digunakan pada tiap siklus respirasi. 500 ml pada laki – laki dan 400 ml pada wanita.
b.    Volume cadangan inspirasi / Inspiratory reserve volume ( IRV ) : jumlah udara yang didapat pada inhalasi maksimal, 3100 ml
c.    Volume cadangan ekspirasi / Expiratory reserve volume ( ERV ) : jumlah udara yang dikeluarkan pada saat ekspirasi kuat, 1200 ml.
d.    Volume residu ( RV ) : jumlah udara yang tersisa setelah ekspirasi, normalnya 1200 ml
-            Kapasitas Pulmoner
a.    Kapasitas total paru ( TLC ) : jumlah udara maksimal dalma paru setelah inspirasi maksimal : TLC = TV + IRV + ERV + RV, 6000 ml
b.    Kapasitas vital ( VC ) : jumlah udara yang dapat diekspirasi setelah inspirasi kuat : VC = TV + IRV + ERV ( biasanya 80 % TLC ), 4800 ml
c.    Kapasitas inpirasi ( IC ) : jumlah udara maksimal yang didapat setelah ekspirasi normal, IC = TV + IRV , 3600 ml
d.    Kapasitas fungsional residu ( FRC ) : volume udara yang tertinggal dalam paru setelah ekspirasi normal volume tidal, FRC = ERV + RV, 2400 ml
-            Tekanan Pulmoner
a.    Bernafas mengubah tekanan intrapulmonal dan tekanan intraplueral. Perubahan tekanan tersebut berhubungan dengan perubahan volume paru. Pada saat inspirasi, volume paru bertambah, dan tekanan intrapulmoner menurun. Sebaliknya, pada saat ekspirasi volume paru menurun, dan tekanan intrapulmonal meningkat.
Dalam uraian di atas membuat kita untuk memenuhi kebutuhan dari ciran dan oksigen tubuh diantaranya adalah pemberian cairan melalui pemasangan infus dan pemberian oksigen melalui pemberian oksigenasi.
Pemberian cairan infuse merupakan materi yang sangat sulit di terapkan karena memiliki berbagai macam tehknik-tekhnik yang berbeda-beda dan memilki kerasionalannya sendiri-sendiri juga. oleh karena itu prosedur pemberian infus memerlukan pembelajaran yang tidak sedikit.
Pemberian oksigen merupakan tindakan memberikan oksigen ke dalam paru-paru melalui saluran pernapasan dengan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen tersebut bertujuan memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Dalam penulisan makalah ini akan di jelaskan pengertian pemberian cairan infuse dan oksigen, tujuan, hal-hal yang harus diperhatikan, alat yang harus disiapkan, cara kerja, indikasi, tempat pemasang perasat.
II.            Rumusan Masalah
A.   Pemasangan Cairan Infus
1.  Kapan kita harus memberikan cairan infus kepada pasien?
2.  Apa pengertian dari pemberian cairan infus?
3.  Apa tujuan diberikanya cairan infus?
4.  Bagaimana uraian tentang pemberian cairan lewat pemasangan infus?
B.   Pemberian Oksigenasi
1.  Kapan kita harus memberikan oksigenasi kepada pasien?
2.  ‘apa pengertian dari pemberian oksigenasi?
3.  Apa tujuan diberikannya oksigenasi?
4.  Bagaimana uraian tentang pemberian oksigenasi?
III.           Tujuan
·      Memberikan penjelasan kapan kita harus melakukan pemberian cairan infus dan pemberian oksigenasi
·      Memberikan pengertian tentang pemasangan infus dan pemberian oksigenasi
·      Menjelaskan tujuan kenapa kita harus memberikan cairan lewat pemasangan infus dan pemberian oksigenasi
·      Memberikan informasi tentang prosedur pemasangan infuse dan oksigen.
·      Agar mahasiswa mampu melaksanakan pemberian infuse dan oksigen kepada klien saat di lapangan kerja.












BAB II
ISI
Teknik Pemasangan Infus
Pemberian Cairan Intravena
-       Pemberian cairan obat /makanan melalui pembuluh darah vena
Tujuan Utama Terapi Intravena: 
  1. Mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
  2. Memberikan obat-obatan dan kemoterapi
  3. Transfusi darah dan produk darah
  4. Memberikan nutrisi parenteral dan suplemen nutrisi

Keuntungan dan Kerugian Terapi Intravena
Keuntungan:
  1. Efek terapeutik segera dapat tercapai karena penghantaran obat ke tempat target berlangsung cepat.
  2. Absorsi total memungkinkan dosis obat lebih tepat dan terapi lebih dapat diandalkan
  3. Kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat dipertahankan maupun dimodifikasi
  4. Rasa sakit dan iritasi obat-obat tertentu jika diberikan intramuskular atau subkutan dapat dihindari
  5. Sesuai untuk obat yang tidak dapat diabsorbsi dengan rute lain karena molekul yang besar, iritasi atau ketidakstabilan dalam traktus gastrointestinalis

Kerugian:
a.    Tidak bisa dilakukan “drug Recall” dan mengubah aksi obat tersebut sehingga resiko toksisitas dan sensitivitas tinggi
b.    Kontrol pemberian yang tidak baik bisa menyebabkan “speeed Shock”
c.    Komplikasi tambahan dapat timbul, yaitu:
d.    Kontaminasi mikroba melalui titik akses ke sirkulasi dalam periode tertentu
e.    Iritasi Vaskular, misalnya phlebitis kimia
f.     Inkompabilitas obat dan interaksi dari berbagai obat tambahan   

Peran Perawat Dalam Terapi Intravena
1.    Memastikan tidak ada kesalahan maupun kontaminasi cairan infus maupun kemasannya
2.    Memastikan cairan infus diberikan secara benar (pasien, jenis cairan, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian)
3.    Memeriksa apakah jalur intravena tetap paten
4.    Observasi tempat penusukan (insersi) dan melaporkan abnormalitas
5.    Mengatur kecepatan tetesan sesuai dengan instruksi
6.    Monitor kondisi pasien dan melaporkan setiap perubahan

Persiapan Infus dan Insersi Kateter pada Vena Perifer
Persiapan Pasien
Cek perencanaan Keperawatan klien (Klien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan)
1.    Periksa rekam medis untuk mengetahui riwayat penyakit, alergi dan rencana perawatan
2.    Periksa ulang perintah dokter mengenai cairan yang harus diberikan dan kecepatan tetesan.
3.    Edukasi ( pendidikan) pasien mengenai:
a.    Arti dan tujuan terapi intravena (I.V)
b.    Lama terapi intravena
c.    Rasa sakit sewaktu insersi (penusukan)
4.    Anjuran:
a.    Laporkan ketidaknyamanan setelah insersi (penusukan)
b.    Laporkan jika kecepatan tetesan berkurang atau bertambah

Larangan:
a.    Mengubah/ mengatur kecepatan tetesan yang sudah diatur dokter/perawat
b.    Menarik, melepaskan, menekan, menindih infus set
c.    Sesuai intuksi dokter, misalnya larangan berjalan

Persiapan Peralatan
1.    Persiapan Alat
a.    Standar infus
b.    Ciran infus dan infus set sesuai kebutuhan
c.    Jarum / wings needle / abocath sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
d.    Bidai / alas infus
e.    Perlak dan torniquet
f.     Plester dan gunting
g.    Bengkok
h.    Sarung tangan bersih
i.      Kassa seteril
j.      Kapas alkohol dalam tempatnya
k.    Bethadine dalam tempatnya
URAIAN
1.    Alat
a.    Alat untuk kateter I.V. / Venocath
Prinsip      :Pilih alat dengan panjang terpendek, diameter terkecil yang memungkinkan administrasi cairan dengan benar
Lihat          :Pedoman ukuran jarum kateter dibawah ini:
A.  Ukuran  16
                   Guna:
-       Dewasa
-       Bedah Mayor, Trauma
-       Apabila sejumlah besar cairan perlu diinfuskan
-       Pertimbangan Perawat           : Sakit pada insersi dan butuh vena besar
B.  Ukuran 18
Guna            :
-       Anak dan dewasa
-       Untuk darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
-       Pertimbangan Perawat           : sakit pada insersi dan butuh vena besar
C. Ukuran 20
Guna            :
-       Anak dan dewasa
-       Sesuai untuk kebanyakan cairan infus, darah, komponen darah, dan infus kental lainnya
-       Pertimbangan Perawat: umum dipakai                       
D. Ukuran 22
Guna            :
-       Bayi, anak, dan dewasa (terutama usia lanjut)
-       Cocok untuk sebagian besar cairan infus
-       Pertimbangan Perawat           : Lebih mudah untuk insersi ke vena yang kecil, tipis dan rapuh
-       Kecepatan tetesan harus dipertahankan lambat
-       Sulit insersi melalui kulit yang keras
E.  Ukuran 24, 26
Guna            :
-     Nenonatus, bayi, anak dewasa (terutama usia lanjut)
-     Sesuai untuk sebagian besar cairan infus, tetapi kecepatan tetesan lebih lambat
-     Pertimbangan Perawat            : Untuk vena yang sangat kecil dan sulit insersi melalui kulit keras
b.    Paket I.V line yang berisi: torniquet, kasa alkohol, povidone-iodine (alkohol 70 %), pisau cukur, kasa steril, plester, perban
-       Label
-       Papan untuk lengan
-       Alas/perlak
-       Alat untuk menggantung cairan infus
-       Sarung tangan untuk mencegah kontaminasi dari darah dan cairan tubuh pasien
2.    Cairan
a.    Pastikan kemasan dan tipe cairan sesuai instruksi dokter
b.    Periksa kejernihan, kadaluarsa, kebocoran cairan bervariasi dalam warna, tetapi tidak pernah tampak berawan, keruh atau separated (jika ragu jangan dipakai)
c.    Dicantumkan informasi: nama perawat, nama pasien, nomor identifikasi pasien, nomor kamar, tanggal dan jam pemasangan infus, tambahan obat, no urut kemasan
3.    Infus Set
-     Sesuai untuk pasien dan kemasan cairan yang akan dipakai
-     Tidak ada retak, lubang atau bagian yang hilang
-     Infusion pump atau infusion controller (jika diperlukan)

Pemilihan Tempat Insersi
Petunjuk Umum:
a.    Vena yang terlihat jelas bukan berarti vena yang terbaik
b.    Pastikan tempat insersi dirotasi. Frekuensi rotasi tergantung bahan kateter:
-     Kateter Teflon atau Vialon perlu diganti setiap 48-72 jam
-     Kateter Aguavene dapat dipertahankan lebih lama
-     Kateter yang terpasang lebih dari 72 jam perlu diberi    alasan yang didokumentasikan dalam catatan perawatan        pasien
c.    Tempat insersi perlu diganti jika terjadi kemerahan, edema, nyeri tekan, atau filtrasi
d.    Pedoman pemilihan vena :
-     Gunakan vena-vena distal terlebih dahulu
-     Gunakan lengan pasien yang tidak dominan
-     Pilih vena-vena diatas area fleksi
-     Pilih vena yang cukup besar untuk aliran darah adekuat ke dalam kateter
-     Palpasi vena untuk tentukan kondisnya. Selalu pilih vena yang lunak, penuh dan yang tidak tersumbat
-     Pastikan lokasi yang dipilih tidak akan mengganggu aktivitas pasien sehari-hari
-     Pilih lokasi yang tidak akan mempengaruhi pembedahan atau prosedur-prosedur yang akan dilaksanakan
-     Vena-vena superficial yang sering digunakan untuk infus IV pada bayi, anak dan dewasa
  1. Bagian atas tangan
-     Metacarpal Veins
-     Dorsal Venous Arch
-     Cephalic Vein
-     Basilic Vein
  1. Bagian bawah tangan
-     Median antebrachial vein
-     Accessory Cephalic Vein
-     Median cuboital vein
-     Cephalic Vein
Membersihkan Tempat Insersi
-     Cuci tangan, lalu pakai sarung tangan
-     Jika perlu, jepit rambut diatas insersi agar vena lebih jelas dan untuk mengurangi rasa sakit sewaktu plester dilepas
-     Jangan mencukur, karena mencukur dapat menggores kulit, menimbulkan iritasi  jika terkena povidone-iodine/ alkohol dan menimbulkan resiko infeksi.
-     Bersihkan  dengan larutan povidone iodine (atau alkohol 70 % jika alergi terhadap iodine)
  1. Menstabilkan Vena
-     Bila pasien kedinginan/ badan dingin/ pre-syok gunakan penghangat
-     Untuk memperbesar vena dapat digunakan posisi yang ditusuk lebih rendah daripada jantung. (Jika perlu gunakan manset tensimeter)
-     Pukul-pukul vena dengan lembut
-     Pasien diminta untuk membuka dan menutup kepalan tangan
  1. Berikan anastesi lokal bila perlu
a.    Siapkan alat-alat,lalu dekatkan ke pasien
b.    Cuci tangan lalu gunakan sarung tangan
c.    Pilih vena yang paling baik
d.    Jika perlu, jepit rambut yang ada, agar vena terlihat jelas dan mengurangi sakit jika plester dilepaskan
e.    Bersihkan area insersi dengan gerakan melingkar dari pusat keluar dengan larutan antiseptik dan biarkan mengering
f.     Pasang torniquet 4-6 inci diatas tempat insersi
g.    Fiksasi vena; letakkan ibu jari anda diatas vena untuk mencegah pergerakan dan untuk meregangkan kulit melawan arah penusukan.
h.    Tusuk vena; pegang tebung bening kateter, bukan pusatnya:
-     Metode langsung: tempatkan bevel jarum mengarah ke atas dengan sudut 30-400  dari kulit pasien. Tusukan searah dengan  aliran vena: rasakan ‘letupam’ dan lihat adanya aliran darah.
Teknik Pemasangan Infus
a.    metode tidak langsung: tusuk kulit disamping vena, kemudian arahkan kateter untuk menembus sisi samping vena sampai terlihat aliran balik darah.
b.    Rendahkan jarum sampai hampir sejajar dengan kulit
c.    Dorong kateter ke dlam vena kira-kira ¼ – ½ inci sebelum melepaskan stylet (jarum penuntun), dan dorong kateter
d.    Lepas torniquet dan tarik stylet
e.    Pasang ujung selang infus atau tutup injeksi intermitten
f.     Fiksasi kateter dan selang IV (lihat macam-macam fiksasi)
g.    Atur kecepatan tetesan infus sesuai instruksi dokter
h.    Pasang balutan steril
i.      Label dressing meliputi tanggal, jam, ukuran kateter dan inisial/nama pemasang
j.      Lepas sarungtangan dan cuci tangan
k.    Rapikan alat-alat

Tehnik Fiksasi
A.   Metode Chevron
-     Potong plester ukuran 1,25 cm, letakkan dibawah hub kateter dengan bagian      yang berperekat menghadap ke atas.
-     Silangkan kedua ujung plester melalui hub kateter dan rekatkan pada kulit pasien
-     Rekatkan plester ukuran 2,5 cm melintang diatas sayap kateter dan selang infus untuk memperkuat, kemudian berikan label
B.   Metode U
-     Potong plester ukuran 1,25 cm dan letakkan bagian yang berperekat dibawah hub kateter
-     Lipat setiap sisis plester melalui sayap kateter, tekan kebawah sehingga paralel dengan hub kateter
-     Rekatkan plester lain diatas kateter untuk memperkuat. Pastikan kateter terekat sempurna dan berikan label
C.   Metode H
-     Potong plester ukuran 2,5 cm tiga buah. Rekatkan plester pada sayap kateter
Prosedur Kerja:
  1. Melakukan verifikasi program pengobatan
  2. Mencuci tangan
  3. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/pasien
  4. Mengecek tanggal kadaluarsa: infus, selang infus, catheter vena.
  5. Menusuk saluran infus dengan benar ( jangan diputar ).
  6. Menggantung cairan infus dan mengisi tabung reservoar sebanyak duapertiga bagian /sebatas tanda hingga tidak ada udara dalam selang.
  7. Atur posisi pasien, pasang pengalas, selanjutnya pasang toniquet 5cm dari area insersi.
a.    Lakukan tindakan aseptik dengan kapas alkohol 70% dan biarkan selama 15-20 detik
b.    Pertahankan vena pada posisi stabil dengan menekan dan menarik bagian distal vena yang akan diinsersi dengan ibu jari
  1. Menusuk vena dengan sudut 30 derajat dan lubang jarum menghadap ke atas
  2. Setelah dipastikan jarum masuk, turunkan posisi jarum 20 derajat dan tarik mandrin 0,5 cm, masukan catether secara perlahan.
    a. Lakukan teknik V saat melepas mandrin dengan  menekan port dan vena lalu segera sambungkan selang infus dengan catheter.

  1. Lepas torniquet dan masukan catheter secara perlahan, sambil menarik jarum keluar
  2. Alirkan infus, selanjutnya lakukan fiksasi antara sayap dan lokasi insersi tanpa menutup lokasi insersi
  3. Letakkan kapas/gaas steril di atas area  insersi.
  4. Lepaskan sarung tangan
  5. Lakukan fiksasi (plaster ukuran ± 5x8cm sampai menutup kapas steril.
  6. Atur tetesan infus sesuai program dan tulis tanggal pemasangan, kolf, tetesan, jam habis,dan k/p obat
  7. Observasi respon pasien.
  8. Bereskan alat dan kembalikan pada tempatnya dalam keadaan bersih
  9. Cuci tangan
  10. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
a.    Tanggal dan jam dipasang
b.    Jenis cairan
c.    Jumlah tetesan/menit•Jangka waktu
d.    Obat bila ada dll

Tahap Terminasi 
a.    Observasi terhadap kondisi umumvital sign, keluhan nyeri, alergi
b.    Observasi  kelancaran tetesan dan jumlah tetesan
c.    Observasi area insersi  (warna kulit / pembengkakan/ sakit)
d.    Berikan KIE pada pasien/keluarga bila terjadi ketidaknyamanan



Dokumentasi Terapi Intravena
Inisiasi:
-     Ukuran dan tipe peralatan
-     Nama petugas yang melakukan insersi
-     Tanggal dan jam insersi
-     Tempat insersi IV
-     Jenis cairan
-     Ada tidaknya penambahan obat
-     Kecepatan tetesan
-     Adanya pemakaian alat infus elektronik
-     Komplikasi, respon pasien, intervensi perawat
-     Pasien mengerti tindakan yang dilakukan terhadapnya

Maintenance
-     Kondisi tempat insersi
-     Pemeliharaan tempat insersi
-     Pergantian balutan
-     Pemindahan tempat insersi
-     Pergantian cairan dalam infus set
-     Pasien mengerti tindakan yang dilakukan terhadapnya.

Penghentian
-     Jam dan tanggal
-     Alasan dihentikan terapi IV
-     Penilaian tempat insersi sebelum dan sesudah alat dilepaskan
-     Reaksi dan komplikasi yang terjadi pada pasien, serta intervensi perawat
-     Kelengkapan alat akses vena sesudah dipasang
-     Tindaklanjut yang akan dilakukan (misal : memakai perban untuk tempat insersi, atau melakukan inisiasi di tungkai yang baru)
Tipe vena yang harus dihindari:
a.  Vena yang telah digunakan sebelumnya
b.  Vena yang telah mengalami infiltrasi atau phlebitis
c.   Vena yang keras dan sklerotik
d.  Vena-vena dari ekstremitas yang lemah secara pembedahan
e.  Area-area fleksi, termasuk antekubiti
f.    Vena-vena kaki karena sirkulasi lambat dan komplikasi lebih sering terjadi
g.  Cabang-cabang vena lengan utama yang kecil dan berdinding tipis
h.  Ekstremitas yang lumpuh setelah serangan stroke
i.    Vena yang memar, merah dan bengkak
j.    Vena-vena yang dekat dengan area yang terinfeksi
k.   Vena-vena yang digunakan untuk pengambilan sampel darah laboratorium

Cara Penusukan Cairan dengan Infus Set
a.    kemasan infus set
b.    Putar klem pengatur tetesan sampai selang tertutup
c.    Pertahankan sterilitas penusuk botol
d.    Buka penutup botol dengan tehnik aseptik atau antiseptik
e.    Perhatikan arah menarik penutup
f.     Tusukkan ujung penusuk infus set ke botol secara tegak lurus dengan menerapkan tehnik aseptik. Jangan diputar
g.    Bila menggunakan botol gelas, pasang jarum udara
h.    Tekan chamber sampai cairan terisi setengah
i.      Naikkan ujung infus set sejajar chamber
j.      Putar klem pengatur tetesan perlahan supaya udara mudah keluar
k.    Jarak botol dengan IV catheter minimal setinggi 80 cm

Selama ini memasang infus(IVFd – Intravenous Fluids), sudah menjadi keseharian tugas perawat. Terkadang memasang infus adalah hal yang mudah, kadang pula karena hal-hal sepele kita gagal memasangnya. 
Berikut sepuluh hal yang sering terlupa ataupun yang menjadi penyebab kita gagal dalam memasang infus :
1.     Salah Sudut
Hal penentu masuk dan tidaknya abocath kedalam pembuluh darah vena secara tepat tergantung dari perawat ketika dalam membuat sudut pemasangan ketika akan menusuk. Kemiringan jarum abocath tidak boleh terlalu besar, karena akan berimbas pecahnya pembuluh darah vena karena terjadi ruptur akibat tembusnya abocath pada bagian bawah vena. Sebaliknya sudut yang terlalu kecil mengakibatkan abocath hanya akan berjalan-jalan didalam kulit (dibawah permukaan kulit) tanpa mengenai pembuluh darah, dan tahukah anda, ini berasa sangat sakit sekali.
Sebelum menusukkan abocath, perkirakan bahwa sudut yang kita buat adalah berkisar antara 40 hingga 60 derajat dari permukaan kulit pasien, tusukkanlah dan rasakan ketika ujung jarum menembus pembuluh darah, kurangi sedikit sudutnya sambil menarik sedikit jarum ketika darah sudah terlihat keluar dia penampung darah abocath, terus dorong selang abocath hingga habis, tarik jarum, tekan sedikit pada permukaan kulit tempat masuknya jarum agar darah tidak mengalir, masukkan selang infus dan alirkan cairan infus tersebut.
2.     Salah Ukuran Abocath
Pastikan selalu perhatikan ukuran pembuluh darah yang akan ditusuk dan perkirakan dengan ukuran abocath. Ingat, disini ilmu kirologi perawat sangat dibutuhkan. Ukuran jarum abocath berhitung terbalik, semakin kecil nomornya, semakin besar ukuran jarumnya, dan ukuran abocath untuk infus selalu genap. Untuk ukuran pasien Indonesia, pada orang dewasa lazimnya memakai abocath dengan ukuran 20 G, sedangkan pada anak-anak dimulai pada ukuran 24 G keatas. Yang perlu dicatat disini, ukuran jarum mempengaruhi jumlah cairan yang masuk, apabila pada kondisi pasien syok, maka jumlah cairan yang masuk pun harus dalam jumlah banyak dan cepat, makanya biasanya untuk pasien-pasien gawat dan memerlukan terapi cairan yang banyak dan cepat, biasanya menggunakan abocath berukuran 18 G, begitupun untuk calon pasien operasi biasanya menggunakan abocath dengan ukuran 18 G.
Catatan : Pemakin besar ukuran jarum, maka panjang abocath juga semakin panjang, oleh karena itu perlu disesuaikan dengan pembuluh darah. 
3.     Salah Memilih Pembuluh Darah Vena
Kesalahan yang berikutnya adalah kesalahan dalam memilih pembuluh darah vena, yang harus diingat pemilihan pembuluh darah vena adalah dari ujung ke pangkal, dari punggung tangan semakin keatas. Pembuluh darah yang dicari pun harus dicari yang tidak bercabang dan tidak keriting, karena akan mengakibatkan pecahnya pembuluh darah. Vena yang kita pilih juga tidak boleh yang melewati persendian, karena akan mengakibatkan infus mudah macet.
4.     Salah Cairan
Memasang infus adalah kerja kolaborasi perawat dengan profesi lain, namun sebagai perawat kita harus jeli, apakah cairan yang diorder benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta kondisi pasien atau tidak, karena perawat adalah seseorang yang mendampingi pasien selama 24 jam. Pelajari apa saja yang terkandung dalam cairan infus tersebut, misalnya pada pasien dengan oedem harus membatasi garam, maka cairan NaCl harus dipertimbangkan, pada pasien DM penggunaan cairan Dextrose harus benar-benar diperhatikan, cairan-cairan dengan osmolaritas tinggi perlu dibatasi kadarnya. Hal terpenting, jangan sampai salah cairan yang masuk ke pasien, karena itu sangat merugikan dan membahayakan pasien.
5.     Salah Pasien
Kenali pasien Anda sebelum memulai prosedur. Yang bener harus dilihat, ditanya dan diyakinkan.
6.     Lupa Mengalirkan Cairan dalam Selang Infus
Keteledoran yang lumayan sering terjadi adalah abocath sudah tertusuk tapi cairan belum siap. Ini nih yang sering bikin berabe, dan kesannya tidak profesional. Buatlah sebuah ritual khusus dalam memasang infus, misal menusuk botol, mengalirkan cairan dalam selang melihat ada udara atau tidak baru gantungkan diatas tiang infus, jadikan itu adalah ritual pertama sebelum memasang infus, jadi walaupun pikiran kita sedang ruwet otak bawah sadar kita pasti akan melakukannya ketika memasang infus.
7.     Lupa Memotong Plaster 
Masih nyambung dengan poin sebelumnya, pastikan memotong plaster adalah ritual kedua setelah mempersiapkan cairan dan selang, hitung bener-bener jumlah plaster, panjang pendeknya sudah tepat belum (sesuai ilmu kirologi) atau kalau memakai metode satu plaster apakah plaster sudah dibelah atau belum.
8.     Lupa Melakukan Desinfeksi
Terkadang hal yang sepele begini bisa kelupaan dengan pedenya kita menusukkan abocath, eh baru teringat belum di desinfeksi, hal ini bisa karena kita terlalu grogi, terlalu-buru-buru tau lupa bawak alatnya. What ever alasan kita, pokoknya melakukan desinfeksi sebelum menusukkan abocath itu wajib hukumnya, kan kasihan pasiennya.
9.     Lupa Memakai Handscoon 
Berbagai alasan ketika kita tidak memakai Handscoon, kadang lupa kadang juga sengaja. Memang terkadang kita tidak merasa nyaman memasang infus dengan memakai Handscoon, apalagi jika pas lagi memasang plaster lengket sana sini. Tapi demi keamanan serta kenyamanan kita dan pasien ini juga kudu dilakuin.
10.  Lupa Berkomunikasi dengan Pasien.
Perawat tanpa ada basa-basi, langsung menyiapkan alat langsung tusuk sudah selesai.Yang ditusuk siapa ya...?? 

Salah satu kelebihan ilmu kita adalah berkomunikasi karena komunikasi perawat adalah komunikasi yang menyembuhkan. Ingat! selalu pastikan pasien itu benar atau tidaknya dengan berkomunikasi, meminta ijin dengan berkomunikasi, dan merilekskan pasien dengan berkomunikasi.
2.    EVALUASI
Perhatikan kelancaran infus, dan perhatikian juga respon klien terhadap pemberian tindakan
3.    DOKUMENTASI
Mencatat tindakan yang telah dilakukan (waktu pelaksanaan, hasil tindakan, reaksi / respon klien terhadap pemasangan infus, cairan dan tetesan yang diberikan, nomor abocath, vena yang dipasang, dan perawat yang melakukan ) pada catatan keperawatan
PEMBERIAN OKSIGENASI

Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang ditujukan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, aktifitas berbagai organ atau sel, mempertahankan  hidup. Pemberian oksigen bertujuan memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
                                            
Urutan saluran pernafasan:
-   Hidung / mulut
-   Faring
-   Laring
-   Trachea
-   Bronkus
-   Bronkhiolus
-   Alveolus

Proses Oksigenasi
1.    Ventilasi
Proses ini merupakan proses pertukaran gas antara paru-paru dan udara luar yang terjadi melalui inspirasi (menghirup udara luar) dan ekspirasi (menghembuskan udara keluar)
2.     Difusi
Difusi gas merupakan pertukaran O2 dari alveoli ke kapiler paru-paru dan CO2 dari kapiler ke alveoli.
3.    Trasportasi
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2 dibawa dari paru keseluruh tubuh dan CO2 dari seluruh tubuh dibawa ke paru.

Frekuensi pernafasan normal:
-        Dewasa           : 12 – 20 x/menit
-        Anak               : 20 – 40 x/menit
-        Bayi                 : > 40 x/menit

Gangguan / masalah kebutuhan oksigenasi
1.     Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat peningkatan penggunaan oksigen ditingkat sel, sehingga dapat memunculkan tanda seperti kulit kebiruan (sianosis).
2.     Perubahan pola nafas
a.     Takipnea merupakan pernafasan dengan frekuensi lebih dari 24 kali per menit.
b.     Bradipnea  merupakan pola pernafasan yang lambat abnormal, kurang dari 10 kali per menit.
c.      Hiperventilasi merupakan proses kompensasi tubuh akibat peningkatan jumlah O2 dalam paru-paru agar pernafasan lebih cepat dan dalam, ditandai dengan peningkatan  denyut nadi, nafas pendek, nyeri dada, dll
d.     Kussmaul merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolik.
e.     Hipoventilasi merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 agar pernafasan lebih lambat dan dalam, ditandai dengan nyeri kepala, penurunan kesadaran, otot-otot pernafasan lumpuh, dll.
f.       Dispnea merupakan sesak nafas atau rasa barat saat bernafasditunjukan dengan retraksi dada.
g.     Ortopnea merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada seseorang yang mengalami kongestif paru-paru.
h.     Cheyne stokes merupakan siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian menurun dan berhenti, lalu pernafasan dimulai lagi dari siklus baru.
i.       Pernafasan paradoksal merupakan pernafasan dimana dinding paru-paru bergerak berlawan arah dari keadaan normal.
j.       Biot merupakan pernafasan dengan irama yang mirip dengan cheyne stokes, akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
k.      Sridor merupakan pernafasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernafasan.

Macam-macam alat pemberian O2
1.      Nasal kanul
2.      Simple face mask
3.      Partial rebreather mask
4.      Nonrebreather mask

Nasal cannule
Pemberian oksigen langsung melalui nasal prongs
-          Dapat digunakan untuk jangka panjang
-          Mencegah rebreathing
-          Dapat digunakan selama makan dan berbicara
Iritasi lokal, dermatitis dan perdarahan hidung dapat terjadi dan volume pemberian diatas 4l/min tidak boleh diberikan secara rutin.

Low flow oxygen masks
Konsentrasi oksigen yang terhirup tergantung dari kemampuan pernafasan pasien. Dapat terjadi rebreathing udara yang diekspirasikan( karena tidak keluar secara sempurna dari sungkupnya)

Fixed performance masks
Dapat memberikan konsentrasi oksigen yang konstan, tidak tergantung pada kemampuan pernafasan pasien.

Partial and non-rebreathe masks
Mempunyai semacam kantong reservoir yang diisi penuh dengan oksigen murni dan yang mengandalkan system katup sehingga tidak terjadi percampuran antara oksigen dengan udara yang diekspirasikan.

High-flow oxygen
  1. Sungkup (Mask) atau nasal prong yang mengalirkan oksigen 50-120 L/min menggunakan high flow regulator untuk memasukkan udara dan oksigen dalam konsentrasi yang ditentukan. Pengertian Terapi Oksigen
Terapi oksigen adalah pemberian oksigen dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari yang ditemukan dalam atmosfir lingkungan.Pada ketinggian laut, konsentrasi oksigen dalam udara ruangan adalah 21 %.
  1. Tujuan
Tujuan pemberian terapi oksigen adalah :
  1. Mempertahankan oksigen jaringan yang adekuat.
  2. Menurunkan kerja nafas
  3. Menurunkan kerja jantung.
  1. Indikasi Pemberian Terapi Oksigen
a.    Mencegah atau mengatasi hypoxia
b.    Penurunan PaCO2 dengan gejala dan tanda-tanda hypoxia, dyspneu, tachypneu, gelisah disorentasi, apatis, kesadaran menurun.
c.    Keadaan lain : gagal nafas akut, shock, keracunan CO
  1. Bahaya-Bahaya Pemberian Oksigen
Pemberian oksigen bukan hanya memberikan efek terapi, tetapi juga dapat menimbulkan efek merugikan, antara lain :
a.    Kebakaran
Oksigen bukan zat pembakar tetapi oksigen dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu pasien dengan terapi pemberian oksigen harus menghindari/mambuka alat listrik dalam area sumber oksigen, menghindari penggunaan tanpa “Ground”.
b.    Depresi Ventilasi
Pemberian oksigen yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada pasien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi.
c.    Keracunan Oksigen
d.    Dapat terjadi bila terapi oksigen yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama.Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan kerusakan surfaktan. Akibatanya proses difusi di paru akan terganggu.
  1. Metode Pemberian Terapi Oksigen
Oksigen di dispensasi dari silinder atau dari sistem berpipa reduksi diameter diperlukan untuk mengurangi tekanan sampai pada tingkat bekerja dan flow meter mengatur aliran oksigen dalam liter/menit. Jika oksigen digunakan dalam kecepatan aliran yang tinggi maka oksigen harus dilembabkan dengan melewatkan oksigen melalui sistem humidifikasi untuk menjaga membran mukosa saluran pernafasan kering.
  1. JENIS TERAPI PEMBERIAN OKSIGEN
a.    Kanula nasal digunakan ketika pasien membutuhkan konsentrasi oksigen aliran rendah sampai sedang dimana keakuratan yang persis tidak penting. Kanula nasal merupakan peralatan yg sederhana dan nyaman. Metode ini secara relatif sederhana dan memungkinkan untuk dapat bergerak bebas di tempat tidur, berbicara, makan tanpa menggangu aliran oksigen. Kecepatan aliran yang berlebihan 6-8 L/menit dapat menyebabkan pasien untuk menelan udara dan menyebabkan iritasi dan kekeringan nasal serta mucosa faring.
b.    Katéter orofaring jarang digunakan dan biasanya hanya untuk pemberian oksigen jangka pendek dengan konsentrasi rendah sampai sedang. Metode ini menyebabkan iritasi mucosa nasal. Jika oksigen diberikan melalui nasal (kanula atau catéter), presentase oksigen yang mencapai paru-paru beragam sesuai dengan kedalaman dan frekuensi pernapasan terutama jira mucosa nasal membengkak atau pada pasien yang bernafas melalui mulut.
c.    Masker oksigen merupakan peralatan yg digunakan untuk memberikan oksigen, kelembaban,atau kelembaban yang dipanaskan. Masker tersebut dirancang supaya dapat benar2 pas terpasang menutupi mulut dan hidung dan difiksasi dengan menggunakan tali pengikat. Tersedia dalam berbagai bentuk dan digunakan untuk tujuan berbeda. Masker sederhana digunakan untuk konsentrasi oksigen rendah sampai sedang sementara masker pernapasan kembali sebagian (nonbreather parsial) atau tidak bernapas kembali (nonbreather) digunakan untuk konsentrasi oksigen yang tinggi. Meski digunakan secara luas, masker ini tidak dapat digunakan dengan konsentrasi oksigen terkontrol dan harus disesuaikan agar pas. Masker ini jangan menekan kulit terlalu ketat karena hal tersebut akan menyebabkan rasa fobia ruang tertutup, pita elastik yang dapat disesuaikan tersedia untuk menjamin kenyamanan dan keamanan. Kantung masker nonbreather parcial dan nonbreather hanya menggembung selama inspirasi dan ekspirasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyesuaikan aliran kantung tidak kolaps saat inspirasi. Masker venturi adalah metode pemberian yang paling akurat dan dapat diandalkan untuk konsentrasi oksigen yang tepat melalui cara noninvasif. Masker dibuat sederhana sehingga memungkinkan aliran udara ruangan bercampur dengan aliran oksigen yang telah ditetapkan. Masker ini digunakan terutama bagi pasien PPOM karena memberikan suplai oksigen tingkat rendah sehingga menghindari resiko dorongan hipoksia. Masker venturi menerapkan prinsip entrainmen udara (menjebak udara seperti vakum) yang memberikan aliran udara yang tinggi dengan gaya oksigen terkontrol. Kelebihan gas keluar masker melalui cuff perforasi, membawa gas tersebut bersama carbón dioksida yang dihembuskan. Metode ini memungkinkan konsentrasi oksigen yang constan untuk dihirup yang tidak bergantung pada kedalaman dan kecepatan pernapasan. Masker harus terpasang dengan pas untuk mencegah oksigen mengalir ke dalam mata, dan kulit pasien diperiksa terhadap iritasi. Masker harus dilepaskan sehingga pasien dapat makan, minum, dll.
d.    Oxygen Consentrator adalah cara lain dalam memberikan jumlah oksigen yang beragam terutama dalam lingkungan rumah. Alat ini secara realtif portabel, mudah dioperasikan dan biayanya murah. Namur, alat ini juga membutuhkan pemeliharaan lebih dibandingkan tabung atau sistem cair dan kemungkinan tidak dapat memberi aliran lebih dari 4 Liter yang memberikan F1O2 kira-kira 36 %.
e.    Alat oksigen lainnya termasuk masker aerosol, collar trakeostomi dan FACE tent digunakandengan alat aerosol (nebuliser) yang dapat disesuaikan dengan konsentrasi oksigen dalam rentang dari 27 % -100 % (0,27-1,00), .jika campuran gas turun di bawah kebutuhan pasien, udara ruangan akan tertarik ke dalam untuk mengencerkan konsentrasi. Kabut aerosol harus tersedia secara constan untuk pasien selama keseluruhan fase inspirasi.
PERSIAPAN
A.   Alat :
1.    Tabung oksigen beserta isinya
2.    Regulator dan flow meter
3.    Botol pelembab
4.    Masker atau nasal prong
5.    Slang penghubung
Penderita
a.     Penderita diberi penjelasan tentang tindakan yang kan dilakukan
b.     Pendrita ditempatkan pada posisi yang sesuai
TATA KERJA
1.    Tabung oksigen dibuka dan diperiksa isinya
2.    Cuci tangan sebelum dan sesudah melaksanakan tindakan
3.    Hubungkan nasal prong atau masker dengan slang oksigen ke botol pelembab
4.    Pasang ke penderita 
5.    Atur aliran oksigen sesuai dengan kebutuhan
6.    Setelah pemberian tidak dibutuhkan lagi lepas nasal prong atau masker dari penderita
7.    Tabung oksigen ditutup
8.    Penderita dirapikan kembali
9.    Peralatan dibereskan
PERHATIAN
a.    Amati tanda-tanda vital sebelum, selama dan sesudah pemberian oksigen
b.    Jauhkan hal-hal yang dapat membahayakan misalnya : api, yang dapat menimbulkan kebakaran
c.    Air pelembab harus diganti setiap 24 jam dan isi sesuai batas yang ada pada botol
d.    Botol pelembab harus disimpan dalam keadaan bersih dan kering bila tidak dipakai
e.    Nasal prong dan masker harus dibersihkan, didesinfeksi dan disimpan kering
f.     Pemberian oksigen harus hati-hati terutama pada penderita penyakit paru kronis karena pemberian oksigen yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan hipoventilasi,hypercarbia diikuti penurunan kesadaran.
Terapi oksigen sebaiknya diawali dengan aliran 1 – 2 liter/menit, kemudian dinaikkan pelan-pelan sesuai kebutuhan
EVALUASI
Periksa kembali kondisi peralatan yang ada tenntang keoptomalan fungsi alat.














PENUTUP
A.     KESIMPULAN
        Dalam memberikan infus dan oksigen pada pasien tentunya memiliki prosedur (cara kerja) yang harus diperhatikan dan perlu digarisbawahi pelaksanaannya. Oleh karena itu seorang tenaga kesehatan diwajibkan mempelajari hal  ini dengan benar dan serius. Prosedur dari tahap ke tahap memiliki rasionalisasi yang memberikan alasan mendasar mengapa harus dilakukan prosedur satu demi satu tanpa ada yang terlewatkan. Hal inilah yang menampakkan pentingnya pembelajaran Ketrampilan Dasar Praktek Klinik (KDPK) yang memilki maksud bahwa kita tak hanya memerlukan teori saja, namun mjuga harus pandai mempraktekan sesuai prosedur yang benar. Oleh sebab itu kelompok penulis mengharapkan materi ini dapat bermanfaat dan diamalkan ilmunya sesuai prosedur yang benar. Kami mengucapkan terimakasih untuk seluruh bantuan dari berbagai pihak yang membantu kami menyelesaikan makalah ini walaupun masih memiliki berbagai kekurangan yang masih perlu untuk diperbaiki.
Terapi O2 merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan  termasuk keperawatan terhadap adanya gangguan pemenuhan oksigen pada klien. Pengetahuan perawat  yang memadai terhadap proses respirasi dan indikasi serta metode pemberian O2 merupakan bekal bagi perawat agar asuhan yang diberikan tepat guna dengan resiko seminimal mungkin.

B.     SARAN
Bagi Perawat :
·            Melakukan prosedur kerja dengan serius dan benar sesuai dengan ketentuan;
·            Memperlakukan pasien dengan baik tanpa menyebarkan privasi pasien;
·            Menggunakan alat-alat sekecil apaun guna menghindari infeksi pada pasien, seperti handschoen, perlak, kapas dan lain-lain.
Bagi Pasien :
·            Melakukan apa yang diinstruksikan oleh perawat guna melancarkan perlakuan;
·            Mempercayakan pada perawat untuk menghindari adanya kesalahan teknis akibat ketakutan dan kekhawatiran pasien.
Bagi Pembaca :
Tiada Gading yang Tak Retak, oleh karna itu kami menerima berbagai masukan guna memperbaiki makalah kami selanjutnya. Terimakasih.





























DAFTAR PUSTAKA

Alimul,Azis.2008.Ketrampilan Dasar Praktik Klinik.Jakarta:Salemba Medika
Black, Joyce M.  Medical  Surgical Nursing ;  Clinical Management For
Continuity Of Care, W.B Sunders Company, 1999
Brunner &  Suddarth.  Buku Ajar Medikal  Bedah, edisi bahasa Indonesia, vol. 8,Jakarta, 2001
Carpenito, LYnda Juall. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, EGC,Jakarta, 1999
Doengoes, Merilin  E. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi ketiga, Jakarta, EGC,1999
Engram, Barbara. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta, 1999
Long, Barbara C. Perawatan Medikal Bedah, YIAPK, Bandung, 1996
Potter, Patricia A. Perry, Anne G. Fundamental of Nursing ; Concepts, Process
and Practice, Mosby Year Book, St. Louis, 1997
Taylor, Calor. Et al. Fundamentals of Nursing ;  The Art and Science of Nursing
Care, Lipincott, Philadelphia, 1997
……………, Dasar Dasar Keperawatan Kardiotarasik, Edisi ketiga, Rumah Sakit
Jantung “Harapan Kita”, Jakarta 1993
©2004 Digitized by USU digital library  6








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar